Pertumbuhan ekonomi digital atau e-comemrce yang kian menjanjikan membuat Badan Pusat Statistik (BPS) berniat mencatat e-commerce sebagai salah satu sektor pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Saat ini, transaksi e-commerce belum tercatat secara baik oleh BPS, baik dalam hal penghitungan total transaksinya maupun kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk itu, saat ini pihak BPS sedang melakukan penjajakan dengan Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) guna menyiapkan skema pendataan transaksi di sektor digital ekonomi.

“Sampai sekarang belum bisa pilah berapa sih share dari online itu, karena itu BPS sekarang sedang kerjasama dengan idEA,” kata Kepala BPS Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, Selasa (14/11).

Penjajakan dengan idEA ini dirasa penting oleh BPS  ditengah perkembangan bisnis online yang meningkat cepat. Namun share secara keseluruhan sampai saat ini baru berada dikisaran 1%-2%.

Dalam penjajakan ini, akan disiapkan juga skema pencatatan transaksi online agar masuk sebagai struktur komponen pengeluaran dalam penentuan pertumbuhan ekonomi. Saat ini, tingkat konsumsi rumah tangga di kuartal III-2017 yang sebesar 4,93% masih menjadi perdebatan karena transaksi online belum tercatat secara baik.

BPS dan idEA sudah menyediakan fitur yang akan menentukan total omset. Fitur ini juga bisa memilah atau mengklasifikasikan produk atau barang-barang kebutuhan rumah tangga dengan kode-kode yang disesuaikan.

BPS belum memastikan kapan konsep itu bisa diselesaikan. Namun, BPS mengharapkan tahun depan konsep itu sudah bisa diselesaikan.

“Kita sudah duduk dengan idEA, dan kita harus segera punya fitur yang pasti agar kita tidak menduga-duga share dari ekonomi digital ini,” ujar Suhariyanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here